Diklat guru penggerak angkatan ke-7 sedang digelar saat ini. Kegiatan ini dimulai dengan tes awal penuh dengan tantangan. Dari proses itu tidak hanya menorehkan catatan teoritis dalam merubah paradigma pendidikan di masa depan. Tetapi catatan yang menggali potensi diri bahwa sudah sejauh mana bentuk aksi nyata para pendidik dalam mendesain, berproses, dan memproduksi nilai-nilai hidup masa depan anak bangsa.
“Roda pendidikan terus berputar mengitari waktu, menghiasi zaman kekinian
yang penuh sensasi dan mulai merongrong kultus budaya lokal. Haruskah semua ini
kita biarkan tanpa ada usaha dan ihtiar, serasa berdiam diri dalam keheningan?”
Beberapa saat diklat guru penggerak
berjalan dengan filosofi pendidikan dari bapak bangsa yaitu Ki Hajar Dewantara
telah memberikan banyak penghayatan tentang penanaman konsep dasar pendidikan.
Tidak dipungkiri ternyata masih banyak nilai esensi pendidikan yang belum kita
sadari sebagai pedoman untuk membangun pilar pendidikan dalam mencerdaskan
kehidupan anak bangsa. Pendidikan yang berorientasi pada profil pelajar
pancasila (beriman dan bertaqwa kepada
Tuhan yang maha Esa dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong
royong, kreatif, mandiri dan bernalar kritis).
Untuk itu sebagai “insan pendidikan
yang professional” mulai tergerak, bergerak, dan menggerakkan dengan
meningkatkan peran dan meresapi nilai guru penggerak (mandiri, kolaboratif, reflektif, inovatif dan berpusat pada peserta
didik) mulai memperbaiki, menata proses dan menjalankan sesuai konsep
MERRDEKA sebagai langkah kongkrit dalam memberikan perubahan ke arah yang lebih
baik tanpa mengenyampingkan keberhasilan yang sudah baik sebelumnya.
Guru penggerak adalah pendidik yang memiliki kedudukan sama dengan yang
lainnya bahkan bukan komunitas yang akan menggeser nilai dan peran struktural
yang sudah berjalan, bukan tumpuan seolah-olah dipundak merekalah titian nasib
pendidikan kedepannya. Tetapi guru penggerak adalah agen perubahan sebagai
among/ pamong yang menata kembali proses menuntun laku anak, menciptakan
kemerdekaan belajar, belajar sepanjang hayat yang berpusat pada anak dalam
mewujudkan profil pelajar pancasila.
Menurut Ki Hajar Dewantara dalam
filosofi pendidikan bahwa anak dilahirkan ibarat kertas kosong yang sudah ada
garis-garisnya tinggal kita memberikan pendidikan kepada mereka dengan
menebalkan garis-garis pada kertas tersebut. Sehingga guru penggerak harus
berperan maksimal dengan memperhatikan nilai guru penggerak yaitu; berpihak
pada peserta didik, mandiri, kolaboratif, reflektif, dan inovatif. Fenomena
gunung es telah memberikan pencerahan bahwa hanya 12% pertumbuhan karakter yang
nampak oleh kasat mata dan sekitar 81% yang tidak kelihatan. Ini berarti bahwa
gambaran kepribadian manusia secara kodrat alam, hanya sebagian kecil
kepribadian yang dibawa sejak lahir. Bilamana sebagian kecil dari kepribadian
ini tidak mendapat tuntunan dan arahan dari kita sebagai pendidik maka mereka
akan terus memperlihatkan sikap kepribadian mereka yang tidak punya landasan
dan mudah dipengaruhi oleh kebudayaan asing. Dalam peningkatan peran dan
penerapan nilai guru penggerak saya lebih mengutamakan untuk memproyeksikan
kegiatan-kegiatan yang bersifat mendidik yaitu penanaman karakter dan
pembiasaan terhadap siswa. Apalagi dalam keadaan zaman saat ini dimana
kebudayaan asing terus menggerus kebudayaan lokal, sehingga tidak heran bahwa
banyak siswa saat ini yang meniru gaya pergaulan-pergaulan yang tidak
mencerminkan adat dan kebudayaan kita sebagai orang timur.
Andaikan saya saudah menjadi guru penggerak dan berjalan sudah 3 tahun,
maka banyak hal yang tentunya sudah berubah dilihat dari dimensi nilai guru
penggerak. Waktu 3 tahun adalah waktu yang cukup lama, sementara dalam beberapa
minggu disaat menulis tugas ini banyak potensi perubahan yang sudah mulai
nampak, walaupun belum sepenuhnya penerapan nilai guru penggerak untuk
dilakukan. Ada beberapa yang saya jadwalkan untuk ditindaklanjuti sesuai dengan
tupoksi saat ini di sekolah antara lain:
- Memfasilitasi kegiatan IMTAQ bersama guru PAI setiap hari Jum’at dan pelaksanaan sholat dhuha berjama’ah;
- Mengawal kegiatan rutin olahraga (senam bersama) di hari sabtu bersama siswa dan guru;
- Penciptaan pembiasaan siswa dengan berjabat salam di saat datang sekolah dan pulang sekolah;
- Peningkatan kedisiplinan waktu proses KBM (Jam masuk kelas, keluar kelas, dan pulang dengan pemanfaatan Handphone sebagai media Bel sekolah dan kedisiplinan dalam melaksanakan kegiatan rutin yaitu Upacara pagi;
- Pembiasaan siswa untuk hidup bersih dengan membersihkan halaman sekolah;
- Peningkatan motivasi pembelajaran dengan desain pembelajaran yang menarik;
- Mengkoordinir kegiatan OSIS dalam pemberdayaan siswa terkait dengan implementasi profil pelajar pancasila;
- Mengawasi rekan guru dalam peningkatan disiplin melaksanakan tugas dengan mengikuti jadwal yang ditetapkan;
b. Rencana jangka pendek
- Mencoba proses pembelajaran dengan memanfaatkan handphone sebagai sarana (menggunakan aplikasi seperti google classroom/ google form) untuk menyelesaikan tugas rumah (3 kelas ajar sebagai pilot project);
- Membangun sistim literasi melalui pemanfaatan koneksi (network) internet;
- Membangun jaringan koneksi antar PC/ Laptop dengan kabel LAN untuk menunjang sistim informasi/ komunikasi pembelajaran (daring) dan persiapan pelaksanaan ANBK;
- Menginisiasi/ memberdayakan kembali kegiatan ekstra kurikuler (Pramuka) setelah covid-19;
- Merevisi dokumen kurikulum sekolah dan menyesuaikan visi misi sekolah yang terintegrasi dengan profil pelajar pancasila;
c.
Kegiatan sesuai dengan kalender
pendidikan
- Membentuk panitia pelaksana Penilaian Tengah Semester (PTS) ganjil, menyiapkan adminsitrasi PTS seperti kartu soal, daftar nilai, absensi pengawas/ peserta;
- Mengkoordinir kegiatan tabulasi/ input nilai oleh walikelas di aplikasi e-rapor yang bersinergi dapodik;
- Mempersiapkan administrasi supervisi kinerja kepala sekolah;
- Mempersiapkan MGMP sekolah dalam menyusun administrasi pembelajaran menyongsong semester genap;
- Melaksanakan supervisi administrasi dan supervisi pembelajaran di kelas dengan berkoordinasi bersama pengawas bina;
