Sabtu, 14 Januari 2023

Penanaman nilai keyakinan budaya positif; pembuatan kesepakatan kelas dan peningkatan sistim kontrol guru sebagai manajer dan restitusi segitiga

 A.  Gambaran umum penciptaan budaya positif

Menciptakan kebudayaan positif di sekolah sudah semestinya karena berdasarkan filosofi pendidikan dari Ki Hajar Dewantara bahwa pendidik adalah ibarat seorang petani ataupun tata surya. Seorang petani memiliki peran yang paling penting dalam mengolah, menanam, merawat dan memanen hasilnya. Ada tiga unsur yang sangat penting sesuai dengan konteks ini antara lain: lahan, bibit dan bagaimana merawatnya. Sebagai petani harus menyiapkan lahan yang subur sebagai tempat untuk menabur benihnya, kemudian dalam proses tumbuhnya benih-benih tersebut harus pula dirawat baik dalam hal irigasi, pupuk dan menyiapkan bahan-bahan ekstra untuk menunjang keberlangsungan hidup dan pertumbuhannya. Seiring dengan tahapan-tahapan ini maka jika dua aspek utama ini sudah tercukupi maka sudah barang tentu dalam memanen hasilnya pun pasti akan memiliki hasil yang berkualitas dan memiliki nilai yang bisa dipamerkan secara produktif bagi konsumen. Jikalau sebaliknya dari ketiga unsur ini tidak di perhatikan maka tidak akan memiliki hasil dan nilai yang berkualitas untuk dijadikan bahan konsumsi bagi konsumen..

Pendidikan dan kebudayaan selalu berubah seperti aktivitas tata surya yang berputar pada porosnya. Setiap  anak memiliki ragam kebudayan beraneka macam. Esensi nilai budaya tersebut diantaranya meliputi dimensi sikap, bakat dan minat yang berbeda-beda. Hal ini dapat tumbuh dan berkembang secara kodratnya sebagai manusiawi, alamiah sesuai kodrat pada zamannya. Prosesnya pasti akan mengalami perubahan secara dinamis. Pendidikan harus begerak maju dimana anak dapat berkreasi menunjukan jati diri dengan kebebasan berpikir dalam konsep merdeka belajar dibawah kepengawasan pendidik yang dibangun melalui asas Tut wuri handayani (dibelakang memberikan dorongan), Ing madya mangun karsa, Ing ngarso sung tuladha dalam prinsip Kontinuitas, Konvergensi dan Konsentris (Trikon). Tahapan perkembangan ini akan menciptakan proses pendidikan yang berorientasi pada profil pelajar pancasila yakni; Beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan yang maha Esa dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, Mandiri, bernalar Kritis, dan kreatif.

Untuk membangun budaya yang positif, sekolah perlu menyediakan lingkungan yang positif, aman, dan nyaman agar murid-murid mampu berpikir, bertindak, dan mencipta dengan merdeka, mandiri, dan bertanggung jawab. Salah satu strategi yang perlu ditinjau ulang adalah bentuk disiplin yang dijalankan selama ini di sekolah, karena berdasarkan pengamatan masih banyak penciptaan budaya positif peserta didik yang tidak menggunakan unsur-unsur teori dari Diane Gossen yang mengatakan teori disiplin restitusi.

Membandingkan dan mempelajari tentang ilusi kontrol dari Dr. William Glasser (control theory) dan teori stimulus respon dari Stephen R. Covey (Principle-Centered Leadership, 1991) merupakan gambaran tentang bagaimana kita memiliki prerogative dalam mempengaruhi anak untuk berbuat baik. Dalam menerapkan teori ini prilaku anak dapat dilaksanakan dan hanya bersifat sementara serta segala tindakan anak tidak berdasarkan nilai keyakinan secara intrinsik karena dalam perbandingan kedua teori ini tentang memandang dunia hanya berpikir menang/ kalah dan menang-menang.

1. Disiplin positif,

Dari 3 motivasi prilaku menurut "Diane Gossen" yaitu untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman, Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain dan untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. menggambarkan bahwa motivasi prilaku ini benar ada dalam diri setiap manusia. Terbentuknya motivasi prilaku ini juga sangat koheren dengan karakter intrinsik dalam diri setiap manusia. Disisi lain bahwa terkadang manusia melakukan suatu perbuatan disebabkan oleh faktor psikologi dan kebutuhan untuk pemenuhan unsur kebutuhan saat itu dan ingin mendapat pujian dari orang lain.

Dalam menciptakan nilai disiplin positif pemikiran Pemikiran Ki Hajar ini sejalan dengan pandangan Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, 2001. Menurut Ki Hajar Dewantara dalam Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka, Cetakan Kelima, 2013, Halaman 470) “dimana ada kemerdekaan, disitulah harus ada disiplin yang kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat ”self discipline” yaitu kita sendiri yang mewajibkan kita dengan sekeras-kerasnya, tetapi itu sama saja; sebab jikalau kita tidak cakap melakukan self discipline, wajiblah penguasa lain mendisiplin diri kita. Dan peraturan demikian itulah harus ada di dalam suasana yang merdeka.

Menurut Diane bahwa arti dari kata disiplin berasal dari bahasa Latin, ‘disciplina’, yang artinya ‘belajar’. Kata ‘discipline’ juga berasal dari akar kata yang sama dengan ‘disciple’ atau murid/pengikut. Untuk menjadi seorang murid, atau pengikut, seseorang harus paham betul alasan mengapa mereka mengikuti suatu aliran atau ajaran tertentu, sehingga motivasi yang terbangun adalah motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik.

2. Teori kontrol, Teori motivasi,

Berdasarkan teori motivasi prilaku manusia menurut Diana Gossen bahwa ada tiga yang memotivasi prilaku manusia yaitu: untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman, Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain dan untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya.

Membangun motivasi prilaku yang disertai dengan memberikan hukuman dan penghargaan hanya berlaku dalam waktu jangka pendek (sementara), sedangkan usaha memotivasi prilaku anak ini lebih pada membangun motivasi prilaku yang bersifat intrinsik; karena disaat mereka memiliki nilai keyakinan maka peserta didik menciptakan budaya positif tanpa dipengaruhi oleh unsur lain yang mereka pertimbangkan lebih dulu.

3. Hukuman dan penghargaan,

Dalam hal ini ada 2 teori yang bisa di ambil menurut ahlinya adalah : Alfie Kohn (Punished by Rewards, 1993, Wawancara ASCD Annual Conference, Maret 1995) mengemukakan baik penghargaan maupun hukuman, adalah sistim dan cara untuk mengontrol perilaku seseorang yang dapat menghancurkan potensi untuk pembiasaan positif untuk pembelajaran yang sesungguhnya. Menurut Kohn, secara ideal tindakan belajar itu sendiri adalah penghargaan sesungguhnya. dan belajar itu termasuk bagian dari disiplin itu sendiri. Karena dihukum dengan penghargaan itu hanya bersifat jangka panjang/ pendek dan berdasarkan penelitian penghargaan tidak dinilai efektif, merusak hubungan, mengurangi ketepatan, menurunkan kualitas, mematikan kreativitas, bersifat menghukum dan sangat mempengaruhi motivasi prilaku secara intrinsik.

Hukuman berarti lebih pada tindakan mengarah ke fisik anak dan bersifat langsung, sementara penghargaan melakukan sebuah tindakan untuk mendapatkan pujian dari orang lain yang menurut mereka penting dan mereka letakkan dalam dunia berkualitas mereka. Mereka juga melakukan sesuatu untuk mendapatkan hadiah, pengakuan, atau imbalan.

Dalam menciptakan budaya positif di lingkungan sekolah memiliki kendala dari peserta didik yang selalu menimbulkan masalah baik individu maupun kelompok sehingga untuk mengendalikan pembiasan maka dibuatlah hukuman dan sanksi.

4. Posisi Kontrol guru,

Ada 2 motivasi posisi kontrol kedalam restitusi yaitu motivasi eksternal dan motivasi intrinsik dengan kriteria bahwa motivasi eksternal memiliki identitas gagal, sementara motivasi intrinsik memiliki identitas berhasil. Kedua identitas ini terpecah lagi menjadi tiga prilaku kontrol yaitu negatif, positif dan kontrol diri sehingga urutan sistimatis ini melahirkan lima posisi kontrol yaitu posisisi penghukum, posisi pembuat merasa bersalah, posisi teman, posisi pemantau/ monitor dan posisi manajer.

Berdasarkan tabel bahwa dalam memberikan motivasi prilaku intrinsik memiliki identitas berhasil/ sukses dan dikelompokkan ke dalam tiga prilaku kontrol dengan ketentuan posisi teman, pemantau dan manajer. Sementara dalam memberikan motivasi prilaku eksternal dengan identitas gagal dan cenderung akan menghasilkan dampak prilaku yang negatif yaitu posisi kontrol pembuat hukuman dan pembuat merasa bersalah. Kita sebagai pendidik harus mencermati hal ini agar tidak merasa salah dalam mengatasi setiap masalah anak

5. Kebutuhan dasar manusia,

Ada lima kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan untuk bertahan hidup (survival), cinta dan kasih sayang (love and belonging), kebebasan (freedom), kesenangan (fun), dan kekuasaan (power). Setiap kebutuhan dasar ini harus terpenuhi dalam kehidupan manusia, kalau tidak maka menimbulkan perbuatan positif dan negative yang berdampak pada dirinya maupun orang lain jika dibiarkan maka akan mempengaruhi kelangsungan penciptaan budaya positif yang majemuk sehingga tidak dapat ditanggulangi dalam waktu yang singkat

Kebutuhan Bertahan Hidup : Komponen psikologis pada kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan perasaan aman. Cinta dan kasih sayang (Kebutuhan untuk Diterima): Kebutuhan untuk mencintai dan memiliki meliputi kebutuhan akan hubungan dan koneksi sosial, kebutuhan untuk memberi dan menerima kasih sayang dan kebutuhan untuk merasa menjadi bagian dari suatu kelompok. Penguasaan (Kebutuhan Pengakuan atas Kemampuan) : Kebutuhan ini berhubungan dengan kekuatan untuk mencapai sesuatu, menjadi kompeten, menjadi terampil, diakui atas prestasi dan keterampilan kita, didengarkan dan memiliki rasa harga diri. Kebebasan (Kebutuhan Akan Pilihan): Kebutuhan untuk bebas adalah kebutuhan akan kemandirian, otonomi, memiliki pilihan dan mampu mengendalikan arah hidup seseorang. Kesenangan (Kebutuhan untuk merasa senang): Kebutuhan akan kesenangan adalah kebutuhan untuk mencari kesenangan, bermain, dan tertawa.

6. Keyakinan kelas

Nilai sebuah keyakinan lebih tinggi kedudukan dalam memotivasi prilaku manusia menjadi nilai dogmatis yang mengarahkan meraka dalam bertindak. Dalam menyusun program nilai keyakinan di sekolah/ kelas harus melibatkan semua unsur yang ada (Stakeholder) agar semua mengetahui keyakinan seperti apa yang akan menjadi nilai untuk menjadi pedoman dalam memotivasi prilaku. Sehingga untuk menetapkan nilai keyakinan maka dilakukan dengan tahapan-tahapan. pertama: mendata dan menganalisa seluruh kemungkinan nilai keyakinan yang timbul dari prilaku siswa ataupun semua unsur dalam lingkungan sekolah. Kedua: menjadikan ketetapan secara tertulis yang bersifat sementara setelah dikelompokkan sesuai dengan batas-batas prilaku. Ketiga: berkumpul bersama dan melibatkan semua unsur untuk melakukan curah pendapat dan membahas terkait dengan ketetapan nilai keyakinan yang akan disepakati bersama dan diberlakukan di sekolah/ kelas. Keempat: menandatangani (legalisasi) seluruh keyakinan sekolah/ kelas hasil ketetapan bersama dan akan menjadi pedoman dalam menuntun prilaku (memotivasi prilaku) anak secara konsekuen.

7. Segitiga restitusi

Dari kelima cara posisi kontrol yang dikemukakan oleh Diane Gossen dalam bukunya Restitution-Restructuring School Discipline (1998) tersebut mengemukakan cara-cara menangani masalah peserta didik dengan mengedepankan tehnik dan nilai memuliakan peserta didik, hal ini tentunya sebagai pendidik harus menguasai sepenuhnya tata cara menangani permasalahan tersebut. Kelima posisi kontrol tersebut adalah Penghukum, Pembuat Rasa Bersalah, Teman, Pemantau dan Manajer. Dari kelima unsur penanganan masalah ini mengutamakan dialogis antara pendidik dan peserta didik, sehingga pendidik harus mengatur tata bahasa yang baik dan benar dalam menginterplasi peserta didik tersebut agar hubungan emosional tetap terjaga. Karena jikalau tidak maka akan menimbulkan unsur sensitifitas dan disharmonisasi terhadap nilai-nilai kebajikan universal secara holistik yaitu tidak terciptanya unsur kerja sama dan bernilai tanggung jawab terhadap penciptaan budaya positif.

Adapun lima posisi kontrol yakni (1) Posisi penghukum adalah pendidik menghakimi peserta didik dengan bahasa bernada tinggi cenderung verbal dan mempengaruhi psikis hingga murid akan berontak dan dendam. (2) Posisi pembuat merasa bersalah pendidik berbicara dengan tenang, lembut tetapi menyalahkan murid, hingga murid merasa bersalah, rendah diri dan menarik diri dari lingkungan. (3) Posisi teman guru berbicara ramah, akrab, murid merasa senang menjaga suasana agar tetap santai dan murid senang menciptakan identitas sukses atau berhasil seolah-olah ada dorongan eksternal membuat faktor ketergantungan, sehingga murid tidak mandiri memikirkan diri sendiri, siswa akan berlaku baik namun hanya pada orang tertentu saja. (4) Posisi pemantau/ monitor; mengandalkan perhitungan atau data mengontrol murid. Seorang pemantau menggunakan ekspresi datar dan cenderung formal. (5) Posisi manajer; posisi ini adalah posisi kontrol menjadikan murid berprilaku positif yaitu mandiri, beranggung jawab dan dapat memecahkan masalah. Tujuannya agar murid dapat merefleksi atas tindakannya, guru akan menanyakan hal yang bermakna dan murid akan mencarikan solusi untuk mengatasi masalah. Setelah mengamati kelima posisi kontrol jadi posisi kontrol pendidik harus sebgai posisi manajer dalam menangani permasalahan peserta didik di sekolah.

Menurut Diane gossen bahwa segitiga restitusi adalah proses dialog yang dijalankana oleh guru atau orang tua agar dapt menghasilkan murid yang mandiri dan bertanggung jawab. Disaat guru sebagai manajer aspek yang dikembangkan pada murid adalah motivasi intrinsik sehingga nilai kebajikan dapat tumbuh dan berkembang menjadi kebiasaan positif membentuk karakter murid. Adapun 3 sisi restitusi adalah stabilisasi kondisi yaitu membuat kesalahan adalah pembelajaran dari identitas gagal ke identitas sukses. Dalam segitiga restitusi ada 3 sisi yang harus kita pahami yaitu Sisi 1. Menstabilkan Identitas (Stabilize the Identity); Sisi 2. Validasi Tindakan yang Salah (Validate the Misbehaviour); Sisi 3. Menanyakan Keyakinan (Seek the Belief). Untuk masing-masing sisi dari segitiga ini kita harus cari tahu kondisi nya dengan menciptkan instrumen. Pada sisi pertama kita harus merubah identitas anak dari identitas yang gagal menjadi identitas yang sukses/ stabil. Prinsip restitusi sama dengan prinsip teori kontrol dimana, "restitusi menguntungkan korban, tetapi juga menguntungkan orang yang telah berbuat salah". Ini sesuai dengan prinsip dari teori kontrol "William Glasser tentang solusi menang-menang".

B.   Rencana tindakan tentang penanaman nilai keyakinan budaya positif melalui pembuatan kesepakatan kelas dan peningkatan sistim kontrol guru sebagai manajer dan restitusi segitiga

1. Latar belakang :

Dalam filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara jelas menekankan bahwa output proses pendidikan adalah bagaimana peserta didik memiliki nilai-nilai kebajikan universal sebagai modal mereka dalam menjalankan kehidupan ini baik dalam lingkup keluarga, sekolah, masyarakat, bangsa dan agama. Seoran anak dilahirkan ibarat kertas kosong yang sudah ada garisnya, tinggal pendidik menebalkan garis-garis tersebut dengan menuntun laku anak melalaui pengkondisian dan pembiasaan budaya positif yang terus berkesinambungan. Perjalanan pendidikan ini ibarat sistim tata surya yang terus bergerak tanpa menyalahi fungsi dan tugasnya masing-masing. Hal ini mencerminkan bahwa sistim dan tatanan pendidikan pun harus berjalan seperti itu, disamping itu pula pendidik diibaratkan sebagai seorang petani yang menabur benih dan mengharapkan hasil panen yang cukup melimpah. Begitulah gambaran antara pendidik dan peserta didik; para pendidik adalah petani dan peserta didik sebagai benih yang disemai pada tanah yang subur, setiap hari akan diairi dan terus dirawat hingga memberi hasil yang cukup banyak.

Terciptanya budaya positif dalam lingkungan pendidikan menjadi impian bagi semua pendidik sebagai tolok ukur dalam keberhasilan peserta didik menciptakan nilai-nilai kebajikan universal. Penciptaan budaya positif peserta didik harus termotivasi secara internal (dari diri sendiri), bukan atas karena adanya hadiah sesaat dari unsur lain atau hukuman. Setiap hal yang dilakukan oleh peserta didik sekalipun itu salah memiliki dasar yang kuat mendorong mereka untuk mencukupi kebutuhan dasar agar mereka dapat survival. Tinggal kita sebagai pendidik memberikan pemahaman agar mereka menyadari bahwa perbuatan mereka yang salah tidak dijadikan kebudayaan positif. Pembiasaan budaya positif dikalangan peserta didik bertujuan untuk menjadikan mereka orang yang disiplin yang memiliki kemerdekaan.

Dalam menciptakan suasana positif di sekolah sebagai pendidik selalu menjunjung tinggi rasa kedisiplinan baik dengan atasan, teman guru lainnya, siswa bahkan dengan seluruh stakeholder lainnya. Dalam menciptakan suasana positif ini tidak hanya dibuat-buat dan beralasan karena ingin mendapat pujian dari atasan tetapi harus betul-betul dengan nawaitu yang ikhlas. Dalam menciptakan suasana positif tentunya ada nilai yang harus dikedepankan antara lain; komunikasi, kerjasama, disiplin, saling menghargai, tanggungjawab, dan kekeluargaan. Menciptakan suasana positif harus dimulai secara intrinsik dalam diri tiap pendidik, karena pendidik merupakan panutan bagi peserta didik harus memiliki disiplin diri yang kuat untuk memberikan motivasi prilaku peserta didik.

Penerapan budaya positif di sekolah saat ini semakin menurun hal ini disebabkan karena keterlibatan pendidik dalam mengawasi kegiatan ini tidak berlangsung secara terus menerus. Disamping itu juga tidak didukung oleh penguasaan pemahaman teori penerapan budaya positif, belum ada menciptakan keyakinan sekolah/ kelas, penggunaan posisi kontrol guru menangani masalah peserta didik masih cenderung belum sesuai (sebagian besar masih menggunakan posisi kontrol penghukum dan pembuat merasa bersalah) dan sistim restitusi segitiga. Dengan melihat hal ini maka nilai dan peran guru penggerak dalam bergerak, tergerak dan menggerakan praktisi komunitas perlu dicanangkan untuk menyamakan persepsi terkait dengan penerapan budaya positif.

2. Tujuan              

Adapun tujuan penanaman nilai keyakinan budaya positif melalui peningkatan sistim kontrol guru   dengan pembuatan keyakinan kelas, posisi kontrol guru sebagai manajer dan restitusi segitiga

  1.  Peserta didik senantiasa menerapkan budaya positif di sekolah/ kelas berdasarkan nlai keyakinan secara intrinsik;
  2. Pendidik memahami penerapan budaya positif secara berkesinambungan berdasarkan keyakinan sekolah/ kelas yang disepakati oleh peserta didik, menggunakan posisi kontrol guru sebagai manajer dan penerapan unsur segitiga secara prosedur;

3. Tolok ukur

  1. Peserta didik mulai berangsur-angsur secara sadar menerapkan budaya positif sesuai dengan nilai keyakinan secara intrinsik dan berkesinambungan;
  2. Guru memahami penerapan nilai budaya positif peserta didik melalui peningkatan sistim kontrol guru sebagai manajer dan unsur restitusi segitiga;

 Sebagai bukti yang dapat dijadikan indikator bahwa tindakan ini berajalan dengan baik adalah bahwasanya;

  1. Peserta didik telah menerapkan budaya positif secara sadar berkesinambungan dan nilai-nilai keyakinan mulai tumbuh secara intrinsik dalam diri peserta didik;
  2. Terciptanya nilai-nilai kesepakatan sekolah/ kelas dari hasil curahan pendapat peserta didik dan dilegalisasi oleh pihak sekolah;
  3. Pendidik menerapkan posisi kontrol guru sebagai manajer dan penerapan unsur restitusi segitiga secara sistimatis.

Linimasa tindakan yang akan dilakukan dapat ditentukan selama satu triwulan/ semester, dan adapun dukungan yang dibutuhkan adalah dukungan dari pengawas bina, kepala sekolah, wali kelas bersama bapak/ ibu guru/ UPTD dan peserta didik bersama anggota OSIS. Persiaan bahan alat akan ditanggung bersama pihak sekolah dengan berkoordinasi kepada unsure pemangku pimpinan yang ada di sekolah.

C.  Kesimpulan

  1. Berdasarkan filosofi pendidikan dari Ki Hajar Dewantara bahwa menuntun laku anak dengan menanamkan nilai-nilai keyakinan anak secara intrinsik adalah unsur mendogma prilaku mereka dalam menerapkan budaya positif peserta didik agar prilaku mereka berjalan sesuai dengan nilai keyakinan dalam diri sendiri;
  2. Berawal dari memahami lima unsur kebutuhan dasar anak dalam motivasi prilaku anak dan perbandingan unsur stimulus respon sebagai teori kontrol dan berdasarkan teori Diane Gossen bahwa salah satu dari lima posisi kontrol yang dijalankan oleh pendidik dalam menangani permasalahan peserta didik adalah posisi kontrol sebagai manajer dan  disamping itu penggunaan unsur restitusi segitiga dengan stabilisasi kondisi, memvalidasi tindakan yang salah dan menanyakan keyakinan;
  3. Berdasarkan kondisi sekolah keyakinan yang dihasilkan dari berbagai persoalan peserta didik dapat diciptakan menjadi keyakinan sekolah/ kelas yang dipahami oleh seluruh peserta didik dan seluruh stake holder untuk deijalankan secara terus menerus;


 


GANBARAN DIRI MASA DEPAN

Diklat guru penggerak angkatan ke-7 sedang digelar saat ini. Kegiatan ini dimulai dengan tes awal penuh dengan tantangan. Dari proses itu ti...