1. Pendahuluan
Paradigma Pembelajaran
berdiferensiasi merupakan metode yang mendukung kondisi proses pembelajaran di
abad 21 saat ini. Sesuai dengan lingkup pemahaman paradigma pembelajaran
berdiferensiasi ini tentunya dinilai cukup strategis untuk menjawab persoalan
pendidikan dalam peningkatan minat belajar anak yang sudah semakin stagnan.
Disamping itu juga keterbatasan terhadap daya kreasi pembelajaran, penciptaan
lingkungan dan media belajar yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman
saat ini. Secara konkrit kita dapat menyaksikan bahwa kemajuan teknologi yang kian
pesat, cara akses yang sangat mudah, tentunya kita juga harus menyelaraskannya
dengan menciptakan daya kritik positif dalam mengaplikasikannya, lebih-lebih
lagi terhadap pemanfaatannya pada peningkatan proses pendidikan dalam memenuhi
kebutuhan belajar peserta didik. Disamping itu keberadaan tekhnologi ini cukup
menunjang terhadap penerapan media pembelajaran dalam membangun paradigma pembelajaran
berdiferensiasi ini; sehingga pendidik harus memiliki pesepsi terhadap
penggunaan akses tekhnologi yang terintegrasi dengan penerapan sistim
pembelajaran berdiferensiasi.
Secara teoritis kita telah
memahami tentang pembelajaran berdiferensiasi, sekarang tinggal kita merasa
bergerak, tergerak dan menggerakkan untuk bersama-sama membangun persepsi untuk
mengimplementasikan tehnik dan strategi pembelajaran berdiferensiasi dalam
menciptakan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dalam mewujudkan
kemerdekaan belajar.
2. Metodelogi
A. Pembelajaran berdiferensiasi
Menurut Tomlinson (2001: 45), Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha
untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan
belajar individu setiap murid. Pembelajaran
berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang
dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid.
Sebagai bentuk keputusan
yang masuk akal tersebut antara lain:
1.
Memiliki
tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas
2.
Bagaimana guru menanggapi atau merespon
kebutuhan belajar muridnya
3. Lingkungan
belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai
tujuan belajar yang tinggi.
4.
Manajemen kelas yang efektif
5.
Penilaian berkelanjutan
Mempelajari berbagai
ilustrasi pembelajaran bahwasanya banyak kasus yang tercipta, memiliki
miskonsepsi terhadap pemahaman pada sistim pembelajaran itu sendiri karena pembelajaran
berdiferensiasi haruslah berakar pada pemenuhan kebutuhan belajar murid dengan memahami keberagaman peserta didik
secara komprehensip.
B. Pemetaan kebutuhan belajar murid
Tomlinson
(2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed
Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan
belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek yaitu antara lain: Kesiapan
belajar (readiness) murid, Minat murid dan
Profil belajar murid.
1. Kesiapan belajar (readiness)
Kesiapan
belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi baru. Sebuah
tugas yang mempertimbangkan tingkat kesiapan murid akan membawa murid keluar
dari zona nyaman mereka, namun dengan lingkungan belajar yang tepat dan
dukungan yang memadai, mereka tetap dapat menguasai materi baru tersebut. Dalam memahami kesiapan belajar
(readiness) tentunya kita akan memahami unsur keberagaman siswa dalam memahami
apa yang diajarkan, sehingga dalam hal ini proses penilaian formatif merupakan
unsur utama dalam mengetahui kesiapan belajar siswa.
Tomlinson (2001:46-47) mengatakan bahwa merancang
pembelajaran berdiferensiasi mirip dengan menggunakan tombol equalizer pada
stereo atau pemutar CD. Sistim
equalizer tersebut yaitu:
· Bersifat
mendasar - Bersifat transformative
· Konkret
- Abstrak.
· Sederhana
- Kompleks.
· Terstruktur
- Open Ended
· Tergantung
(dependent) - Mandiri (Independent)
· Lambat
- Cepat
Dalam memahami sistim equalizer
pembelajarn yang dikemukakan oleh Tom Linson ini adalah memberikan ilustrasi bahwa
dalam sistim pembalajaran berdasarkan aspek kesiapan belajar ini, pendidik
harus memiliki frekwensi pengajaran yang cukup dinamis sesuai dengan hasil
analisa keberagaman kesiapan belajar anak; pembelajaran juga tidak seharusnya
berjalan secara konvensional dan monoton sehingga dengan hal ini guru haruslah
memainkan perannya untuk menyikapi aspek kesiapan belajar anak.
2. Minat murid
Minat
merupakan suatu keadaan mental yang menghasilkan respons terarah kepada suatu
situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan diri. Tomlinson (2001: 53), mengatakan bahwa:
· Membantu murid menyadari bahwa ada
kecocokan antara sekolah dan kecintaan mereka sendiri untuk belajar;
· Mendemonstrasikan keterhubungan
antar semua pembelajaran;
· Menggunakan keterampilan atau ide
yang dikenal murid sebagai jembatan untuk mempelajari ide atau keterampilan
yang kurang dikenal atau baru bagi mereka, dan;
· Meningkatkan motivasi murid untuk
belajar..
Dalam memahami minat murid tentunya
pendidik harus memiliki orientasi bahwa bagaimana tetap memotivasi minat anak
dengan menyajikan pembelajaran yang menarik untuk murid, karena kalau tidak
seperti ini maka ada beberapa anak yang mempunyai minat berdasarkan faktor
internal yang timbul dalam dirinya; artinya meskipun dalam pembelajaran yang
disajikan oleh gurunya tidak menarik tetapi mereka memiliki kecenderungan minat
akan materi yang disampaikan maka anak tersebut akan mengikuti pembelajaran
secara berkelanjutan dan sebaliknya jikalau guru sudah memberikan mereka
pelayanan pembelajaran yang menarik namun secara internal anak tidak memiliki
minat akan materi tersebut maka anak seolah-olah tidak mempunyai angan yang
tinggi untuk melanjutkan pembelajaran tersebut. Tetapi dari faktor ini
merupakan tantangan yang menarik bagi guru untuk terus menyajikan pembelajaran
yang lambat laun anak termotivasi untuk meningkatkan minat dan pemahaman yang
tinggi akan pelajaran yang di ajarkan. Penekanannya bahwa anak memiliki
diferensiasi proses dalam memenuhi kebutuhannya sebagai jawaban dari tujuan
pembelajaran.
3. Profil belajar murid
Setiap anak memiliki profil belajar
masing-masing, hal ini sangat pempengaruhi proses pembelajaran mereka dalam
mencapi kebutuhan belajar mereka. Sehingga para pendidik harus mencermati hal
ini karena merupakan metode bervariasi dalam melakukan pendekatan pembelajaran.
Melihat hal ini cukup menarik untuk diperhatikan mengingat pada umumnya bahwa
proses pembelajaran hanya bersifat konvensional dan monoton ganya dilakukan di
dalam ruang kelas saja.
Profil
belajar murid terkait dengan banyak faktor antara lain:
a.
Preferensi terhadap lingkungan belajar, terkait
dengan suhu ruangan, tingkat kebisingan, jumlah cahaya, apakah lingkungan
belajarnya terstruktur/tidak terstruktur, dsb. Contohnya: mungkin ada anak yang
tidak dapat belajar di ruangan yang terlalu dingin, terlalu bising, terlalu
terang, dsb.
b.
Pengaruh Budaya: santai - terstruktur, pendiam -
ekspresif, personal - impersonal.
c.
Preferensi gaya belajar. Gaya belajar adalah
bagaimana murid memilih, memperoleh, memproses, dan mengingat informasi baru.
d.
Preferensi berdasarkan kecerdasan majemuk
(multiple intelligences): visualspasial, musical, bodily-kinestetik,
interpersonal, intrapersonal, verballinguistik, naturalis, logic-matematika.
Secara umum
gaya belajar ada tiga, yaitu: 1. visual: belajar dengan melihat (misalnya
melalui materi yang berupa gambar, menampilkan diagram, power point, catatan,
peta, graphic organizer); 2. auditori: belajar dengan mendengar (misalnya
mendengarkan penjelasan guru, membaca dengan keras, mendengarkan pendapat saat
berdiskusi, mendengarkan musik); 3. kinestetik: belajar sambil melakukan
(misalnya bergerak dan meregangkan tubuh, kegiatan hands on, dsb). Memahami preferensi belajar ini penting karena guru dapat
mengklasifikasi gaya belajar anak berdasarkan profil belajar mereka seperti
gaya belajar visual, auditori dan kinestetik.
C. Penilaian (assesmen)
Guru merupakan unsur yang sangat berperan
dalam pembelajaran terutama dalam penilaian (assesmen), guru juga sama halnya
dengan seorang dokter yang melakukan proses diagnostik dalam menganalisa
penyakit pasiennya, proses diagnostik yang dilakukan oleh dokter identik dengan
seorang guru yang melakukan proses penilaian terhadap kemajuan muridnya. Sementara kalau dibandingkan dengan
proses yang berjalan bahwa penilaian lebih cenderung dilaksanakan secara
sumatif, sehingga proses menganalisis kemajuan belajar siswa tidak dilaksanakan
dan proses pembelajaran cenderung tidak sesuai dengan kebutuhan belajar siswa. Hal ini dalam proses pembelajaran
berdiferensiasi harus dilakukan secara formatif maupun sumatif.
Tomlinson
& Moon (2013) mengatakan bahwa penilaian adalah proses mengumpulkan,
mensintesis, dan menafsirkan informasi di kelas untuk tujuan membantu
pengambilan keputusan guru. Ini mencakup berbagai informasi yang membantu guru
untuk memahami murid mereka, memantau proses belajar mengajar, dan membangun
komunitas kelas yang efektif.
Di dalam
kelas, kita dapat memandang penilaian dalam 3 perspektif:
1.
Assessment for learning - Penilaian
yang dilakukan selama berlangsungnya proses pembelajaran dan biasanya digunakan
sebagai dasar untuk melakukan perbaikan proses belajar mengajar. Berfungsi
sebagai penilaian formatif. Sering disebut sebagai penilaian yang berkelanjutan
(on-going assessment)
2.
Assessment of learning - Penilaian
yang dilaksanakan setelah proses pembelajaran selesai. Berfungsi sebagai
penilaian sumatif
3.
Assessment as learning - Penilaian
sebagai proses belajar dan melibatkan murid-murid secara aktif dalam kegiatan
penilaian tersebut. Penilaian ini juga dapat berfungsi sebagai penilaian
formatif.
D. Refleksi
Dari apa yang telah
diuraikan di atas maka sudah sepatutnyalah sebagai pendidik harus melakukan
perubahan paradigma dengan menerapkan proses pembelajaran berdiferensiasi sebagai jawaban dari semua persoalan
kesulitan belajar peserta didik sekarang ini. Secara konkrit kita dapat melihat
bahwa output proses pembelajaran peserta didik sangat menurun bila dikaitkan
dengan kualitas pendidikan sekarang ini. Disamping itu juga kita tidak perlu
menafikkan bahwa rencana dan proses pembelajaran yang disajikan hanya berjalan
secara monoton dan cenderung bersifat konvensional sehingga proses pembelajaran
tidak memiliki daya tarik dan tidak berpusat pada peserta didik dan cenderung
membosankan. Kemudian dengan
prinsip bergerak, tergerak dan menggerakkan juga mampu memprakarsai perubahan
dalam komunitas praktisi sebagai perwujudan dalam membangun persepsi untuk bersama-sama
menata sistim pembelajaran berdiferensiasi dilingkup sekolah.
